Sabtu, 01 Juni 2013

Refleksi Studi Bulan September 2012



Refleksi Studi Bulan September 2012
Oleh : Fr. Bonaventura Mario ( Filosofan 1)

         A
ku merasa beruntung bisa belajar filasafat di Seminari ini. Keberuntungan ini bukan saja karena aku tidak membayar uang kuliah dan uang asrama, tetapi beruntung karena aku memperoleh ilmu yang akan membuat diriku lebih bijaksana. Kebijaksanaan itu sangat penting bagiku, terutama bila disangkutkan dengan panggilanku menuju imamat. Untuk menjadi seorang gembala, haruslah bijaksana, apalagi jika melakukan karya penggembalaan di dunia yang semakin kompleks permasalahannya ini. Banyak umat yang menantikan homili dan arahan-arahan yang menjawabi permasalahan di dunia ini, terlebih lagi permasalahan yang kontekstual dalam kehidupan mereka. Namun yang terpenting dari itu semua, adalah mengarahkan mereka kepada Tuhan.  Untuk menjawabi kebutuhan akan kebijaksanaan yang sedemikian besar inilah aku merelakan diriku untuk belajar filsafat.
        Ada 8 mata kuliah yang kupelajari di semester 1 ini. Sebagian mata kuliah mengarahkanku untuk berpola pikir yang logis, sistematis, dan analitis, misalnya saja logika, metodologi penelitian filsafat, epistemologi, dan pengantar filsafat. Sedangkan sebagian mata kuliah yang lainnya, mengarahkanku untuk mencari sebab-sebab dan hakikat yang terdalam dari realitas kehidupan ini, misalnya saja metafisika, filsafat agama, seminar Plato, dan sejarah filsafat Yunani kuno.
Untuk mata kuliah metafisika, aku merasa kering dan hampir tidak mempedulikan mata kuliah itu. Bila dibandingkan dengan universitas yang lain, metafisika diletakkan di akhir-akhir perkuliahan, namun disini malah diletakkan di awal perkuliahan. Sempat muncul rasa protes di dalam diri karena aku merasa kesulitan, namun Tuhan menjawab hal ini lewat teman-teman dan kakak tingkat yang membagikan hasil permenungannya setelah mempelajarinya. Metafisika itu diletakkan di awal perkuliahan karena merupakan dasar untuk memahami pemikiran filsuf-filsuf metafisik yang akan di ajarkan di semester selanjutnya. Setelah memperoleh penjelasan itu, aku justru merasa beruntung karena dipersiapkan mulai awal, sehingga nantinya tidak kaget ketika menerima kuliah-kuliah yang metafisik.
         Dalam kaitannya dengan kebijaksanaan, metafisika adalah jembatan untuk memahami hal-hal yang hakiki. Hal-hal yang hakiki adalah hal-hal yang terdalam dari realitas yang ada. Di dalam injil, Tuhan Yesus menyuruh Petrus untuk bertolak ketempat yang lebih dalam bila ingin mendapatkan tangkapan yang banyak. Begitu juga dengan kebijaksanaan, orang yang sering bertolak lebih dalam kedalam dirinya sendiri ataupun kedalam hakikat dari realitas yang ada, akan menemukan kebijaksanaan yang tak terduga dalamnya. Kesadaran yang baru ini membuatku bersemangat dalam belajar filsafat.
Duc in altum       

refleksi pastoral kemasyarakatan



Refleksi Pastoral
Oleh : Fr. Bonaventura Mario, Pr

Aku berpastoral kemasyarakatan selama 9 bulan di toko buku murah ‘Marina’ di jl, Semarang Surabaya. Meskipun waktu pastoralku hanya satu bulan sekali, aku mensyukuri pengalaman yang tak terlupakan ini. Karena selain berkesan, pengalaman pastoralku ini juga mempunyai makna bagiku, yaitu sebagai bekalku dalam menjalani panggilan sebagai seorang calon imam.
Secara umum, yang aku lakukan saat berpastoral adalah membantu melayani pembeli, mereparasi buku-buku yang sudah rusak, menjahit isinya buku bajakan, memilah-milah buku yang dibeli, dan ngobrol dengan karyawan dan pembeli. Dari sekian banyak kegiatan yang kulakukan, kegiatan yang paling berkesan  bagiku adalah ngobrol dengan karyawan dan pembeli, karena dari obrolan inilah aku memperoleh informasi, pengetahuan, dan kisah-kisah yang bermakna bagiku. Selain itu, dengan ngobrol aku juga bisa mempraktekkan dan memperdalam pengetahuan filsafatku, terlebih lagi yang berkaitan dengan sosiologi dan politik.
Dari obrolanku dengan pemilik toko dan karyawan, ada beberapa kisah yang dapat kurefleksikan. Kisah yang pertama adalah kisah penggusuran PKL jl. Semarang. Mereka menceritakan bagaimana para petugas Satpol PP menggusur kios-kios PKL dengan tidak berperikemanusiaan. Dari situ aku melihat keinginan mereka untuk bertahan hidup, mempertahankan mata pencahariaan mereka demi mencari sesuap nasi dan sepiring kebahagiaan. Ketika memperjuangkan nasibnya, mereka tidak sendirian, namun ada campur tangan Rm. Ghani, CM yang mendampingi dan menguatkan mereka. Pribadi Rm. Ghani begitu mereka hargai dan mereka junjung tinggi karena kepedulian dan pengorabannya yang tidak setengah-setengah. Pernah suatu kali beliau ditangkap polisi dan menginap beberapa hari di penjara, demi memperjuangkan nasib mereka.
Kisah yang kedua adalah kisah perjuangan hidup salah seorang karyawan yang dulunya adalah anak jalanan yang mengalami perbaikan nasib ketika dididik dan dibina oleh PRD. Karyawan ini disekolahkan hingga SMA dan diberi tempat tinggal, kemudian diberi pendidikan mengenai ketiga prinsip filosofi mereka, yaitu sosialisme, materialisme, dan politik.        Darinya, aku memperoleh kesadaran baru yaitu pendidikan mengubah masa depan. Anak-anak jalanan yang dipandang sebelah mata, bila dididik dan dibina, bisa menjadi orang yang mempunyai soft skill dan hard skill yang menjadi bekal dalam menjalani hidupnya. Mereka tidak hanya berfilsafat, berbicara mengenai hal-hal yang  ideal, tetapi juga yang membantu orang-orang yang terpinggirkan, misalnya anak jalanan, pelacur, pengemis, orang gila, dll.  
Karena aku begitu semangat dan antusias ketika mendengarkan kisahnya, merekapun berjanji kepadaku, suatu saat nanti aku akan diajak ke tempat-tempat dimana mereka membina para membantu dan membina para pelacur, anak jalanan, gelandangan, dan pengemis. Aku menyambut tawaran mereka dengan antusias, namun hingga akhir pastoral ini, janji itu belum pernah terealisasi. Hal ini terjadi karena ada 2 faktor, yang pertama, mereka lupa akan janjinya dan juga belum ada waktu yang pas untuk itu. Faktor yang kedua adalah penyadaran dari Rm. Edi selaku rektor STPD yang mengingatkanku di akhir semester I. Beliau menyarankan aku agar tidak larut dalam gerakan-gerakan praktis seperti itu, tetapi tetap menjadi calon imam yang ketika menjadi imam kelak, memberikan motivasi, inspirasi, pencerahan, dan peneguhan atas gerakan mereka.
Dari berbagai hal diatas, ada beberapa nilai yang aku dapatkan, diantaranya kekeluargaan, kepedulian, pelayanan, dan pengorbanan. Aku memperoleh nilai kekeluargaan ini dari rasa percaya yang mereka berikan kepadaku. Mereka mempercayaiku ketika berbagi cerita atas pengalaman-pengalaman pribadi mereka, bahkan sampai pada hal yang privasi sekalipun. Selain itu, mereka juga mempercayaiku dalam hal penyimpanan uang. Aku dipersilakan memasukkan sendiri uang hasil penjualan dan dan mengambil sendiri uang kembalian. Mereka sudah mempercayaiku dan tidak merasa khawatir sedikitpun akan kemungkinan adanya pencurian. Menurutku, rasa percaya kepada orang lain adalah dasar yang fundamental untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan siapapun. Saat ini saja aku sudah dipercaya banyak orang untuk mendengarkan hal-hal yang bersifat privasi, apalagi ketika menjadi menjadi imam kelak. Aku menyimpan semuanya itu dan menjaganya dengan rasa tanggungjawab. Menurutku, ketika kita memberikan rasa percaya kepada orang lain, hal itu akan mengembangkan orang yang kita percayai, dan aku merasakan hal itu.
Nilai yang dapat kupetik selanjutnya adalah kepedulian. Aku memperolehnya ketika mendengarkan kisah gerakan PRD yang membantu orang-orang yang terpinggirkan. Selain itu, kisah pendampingan Rm. Ghani, CM yang heroik juga memunculkan nilai ini. Menurutku, rasa peduli yang diwujudnyatakan dalam perbuatan yang konkret, membawa secercah cahaya harapan bagi orang-orang yang sedang berada di tengah gelapnya permasalahan. Orang-orang yang mempunyai kepedulian ini merupakan perpanjangan tangan Tuhan yang menyayangi umat manusia ciptaan-Nya.
Selanjutnya, aku menyadari adanya nilai pelayanan dan pengorbanan di dalam kegiatan pastoralku ini. Aku memang tidak sehebat Rm. Ghani yang melayani Tuhan Yesus yang hadir didalam orang-orang terpinggirkan itu hingga rela masuk penjara, namun aku mempunyai semangat pelayanan yang tidak kalah besar dengan Rm. Ghani. Aku menyambut pembeli dan melayaninya hingga keperluannya selesai. Ada kebahagiaan tersendiri ketika pembeli yang kulayani itu merasa nyaman dengan pelayananku.
Nilai-nilai yang kutemukan diatas, mempunyai relevansi dengan pembinaanku sebagai calon imam di STPD. Selama ini, nilai kekeluargaan, kepedulian, pelayanan, dan pengorbanan kupraktekkan dalam kehidupan berkomunitas dan kehidupan pastoralku. Aku mewujudnyatakannya melalui hal-hal kecil yang kulakukan dengan setia, misalnya dalam menjalankan tugasku sebagai koordinator koster yang mengkoordinasi dan membantu anggotaku menyiapkan dan membereskan peralatan misa. Di dalam komunitas lantai pun demikian, bila ada teman yang sakit dan tidak bisa makan bersama, aku segera membawakannya makanan dan minuman.
Aku bersyukur atas pengalaman pastoral kemasyarakatan yang telah kujalani selama ini. Semua pengalaman pastoral dan bekal yang kudapatkan ini bagaikan puzzle yang menyusun mozaik indah di dalam bingkai kehidupan panggilanku sebagai seorang calon imam, 
   


Rabu, 01 Juni 2011

Riwayat Hidup Panggilan



Oleh: Bonaventura Mario


Sejak kecil saya mendapatkan bimbingan dalam hal-hal yang berbau rohani dari keluarga. Berbagai kegiatan saya jalani, diantaranya yaitu berdoa bersama dalam keluarga, mengikuti perayaan ekaristi setiap hari Minggu, doa lingkungan, rekoleksi, retret, dan menggabungkan diri dalam organisasi misdinar.
Ketika duduk di kelas 5 SD, saya mengikuti misdinar, saya merasa bersemangat dan nyaman karena pastur-pastur yang saya layani orangnya menarik dan berkarisma. Pernah terlintas keinginan untuk menjadi pastur, karena kehidupannya yang penuh dengan pelayanan, bisa tahu segalanya (anggapan saya), memimpin perayaan ekaristi, dan berkotbah. Saya membayangkan seandainya saya yang berada di mimbar, memakai jubah dan memberikan kotbah, pasti menyenangkan.
Ketika saya kelas 2 SMP, saya berkeinginan untuk menjadi pastur, tak disangka kakak saya juga berkeinginan yang sama dengan saya. Hingga kelas 3 SMP keinginan itu masih ada. Ketika saya bertanya pada guru agama saya, beliau mengatakan bahwa batas waktu pendaftarannya sudah lewat. Namun beliau menghibur saya dengan mengatakan bahwa masuk seminari setelah lulus SMA saja. Kemudian saya melanjutkan pendidikan saya di SMAN 10 Surabaya.
Masa-masa SMA saya jalani dengan mengikuti berbagai macam kegiatan yang menjadi sarana saya dalam mengembangkan diri, mencari jatidiri, serta penguatan panggilan. Saat kelas 3 SMA, saya mengikuti kepanitiaan dalam acara LINEAR 2k8 (Live In Pelajar SMA/ SMK se-Surabaya Tahun 2008) di Ngawi. Dalam acara ini, saya menemukan keprihatinan yang menguatkan panggilan saya untuk menjadi pastur. Umat di stasi Banjaran, Paroki St. Yosef Ngawi bersemangat sekali dalam mengikuti kegiatan kehidupan menggereja. Mereka berjalan ±3 Km menuju ke gereja. Melewati jalan makadam, naik turun bukit, melewati jalan berbatu yang licin karena hujan, hanya untuk mengikuti ibadat sabda. Ketika saya hadir bersama dengan mereka, saya mengetahui hal baru yang cukup mengagetkan bagi saya. Ternyata perayaan ekaristi diadakan hanya satu kali dalam satu bulan. Hal ini berbeda jauh dengan kehidupan di paroki saya. Di Paroki Sakramen Maha Kudus Surabaya, perayaan ekaristi diadakan setiap hari. Ada misa harian dan misa kudus di hari Sabtu dan Minggu. Ketika saya telusuri mengapa terjadi hal yang demikian, ternyata penyebabnya adalah kurangnya tenaga imam. Imam yang bertugas di paroki St. Yosef Ngawi waktu itu hanya ada 2 orang, sedangkan mereka mengurusi paroki dan banyak sekali stasi, dan hal-hal lainnya.
Saya merasa prihatin dan kasihan, masakan umat yang begitu bersemangat dalam hidup menggereja kekurangan pelayanan dari imamnya. Apakah tenaga imam yang ada selama ini masih kurang? Setelah saya renungkan, saya ingin menjadi seorang gembala yang melayani umat, jiwa-jiwa yang haus akan kasih Tuhan. Ya, saya ingin menjadi seorang imam.
Untuk menjadi imam, saya harus menempuh pendidikan di tempat yang khusus terlebih dahulu, yaitu di Seminari. Ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk menjadi imam, ayah saya gembira karena Tuhan menjawab doanya. Beliau bercerita bahwa dulunya, beliau juga mempunyai keinginan untuk menjadi imam, namun tidak diijinkan oleh orangtuanya. Maka beliau mempunyai keinginan untuk menyerahkan kedua anaknya kepada Tuhan. Selama ini beliau tidak pernah menceritakan hal ini kepada anak-anaknya, namun beliau hanya berdoa saja. Maka dari itu beliau gembira sekali. Kalau saja beliau yang menjadi imam, hanya satu orang saja. Namun Tuhan berkehendak lain, yaitu membuat dua orang yang berkeinginan menjadi imam.
Saya mendaftar ke Seminari bukan hanya karena ingin menjadi imam, tapi karena faktor keadaan juga. Saat saya kelas 3 SMA, mendekati semester II, saya merencanakan masa depan saya bersama orangtua. Opsi pertama yaitu kuliah, namun keadaan ekonomi keluarga kurang mencukupi. Opsi kedua yaitu bekerja, namun saya masih ingin mengenyam pendidikan lebih lanjut. Opsi ketiga yaitu masuk ke Seminari, untuk memperjuangkan panggilan saya menjadi imam. Karena biaya DPP perbulannya bagi keluarga saya cukup tinggi, kami berkonsultasi dengan romo paroki. Akhirnya romo memberikan bantuan keuangan.
Saya merasa Tuhan memberikan kemudahan dan dukungan dalam menyusuri jalan panggilan menjadi imam. Saya lulus UNAS dengan nilai yang cukup memuaskan. Kendala-kendala teknis yang menghadang seakan di singkirkan oleh Tuhan. Kini saya tinggal memperjuangkan hidup panggilan. Bulan-bulan awal di Seminari merupakan masa adaptasi yang cukup berat bagi saya. Namun dukungan dari romo pembimbing, umat dan orangtua yang senantiasa mendoakan, dan kakak saya yang juga menjadi seminaris, selalu menguatkan panggilan saya. Managemen diri dan managemen waktu menjadi permasalahan-permasalahan  saya dalam menjalani rutinitas. Sulitnya menentukan prioritas, dan permasalahan relasi dengan teman seperjuangan menjadi menu utama saya untuk bimbingan rohani.
Membuat jurnal mingguan, menghidupi nilai tertentu dalam satu minggu, bimbingan rohani minimal dua kali dalam satu semester, membuat saya merasa hidup ini sungguh teratur, hidup yang saya jalani adalah hidup bersama, bukan sendirian.  Saya merasa kebersamaanlah yang menguatkan panggilan saya. Dengan adanya berbagai acara tahunan yang diadakan Seminari, saya merasa hidup ini lebih bervariasi dan semakin menguatkan panggilan saya. Merasakan pedihnya suatu perpisahan dengan teman seperjuangan sempat membuat panggilan saya goyah, namun berkat doa dan dukungan dari berbagai pihak, saya terus memperjuangkan panggilan saya.
Pengalaman pastoral stasi dan sekolah juga membuat saya merasa dibutuhkan oleh banyak umat. Saya menjadi tahu akan pergulatan dan permasalahan yang terjadi pada umat di stasi. Kehadiran dan pelayanan seorang imam sungguh mempunyai arti yang besar bagi umat. Pengalaman mengajar di sekolah juga membuat saya menjadi guru. Guru yang mengajar, mendidik orang lain. Meskipun usia saya masih remaja, saya seakan-akan dituntut untuk menjadi dewasa, menjadi teladan bagi adik kelas, umat stasi, dan bagi murid-murid di sekolah. Awalnya memang berat, namun ketika saya memohon pertolongan Tuhan melalui doa, saya mendapatkan bantuan dari teman-teman seangkatan dan para staf formator. Inilah yang membuat saya yakin akan panggilan saya. 
Saat menjalani retret, saya merenungkan kembali riwayat hidup panggilan saya. Saya bersyukur atas bantuan Tuhan melalui tangan-tangan kasih-Nya yang turut campur tangan dalam menguatkan panggilan saya. Banyak jiwa yang masih membutuhkan pelayanan dan sapaan rohani. Saya ingin menjadi salah satu orang yang melayani dan menguduskan dunia ini. Pada dasarnya, menjadi imam apapun itu, yang membedakan yaitu ciri khas dalam penghayatan dan pelayanannya. Yang penting itu imamatnya. Setelah saya refleksikan, saya merasa diutus Tuhan untuk menjadi imam Diosesan Surabaya. Karena panggilan saya berawal di Keuskupan Surabaya, umat yang saya tahu keadaannya pun juga Keuskupan Surabaya. Jadi saya memutuskan untuk bergabung di Diosesan Surabaya.

Sabtu, 30 April 2011

Tips Berbicara Didepan Umum


1. Let us pray to God sebelum melakukan kegiatan. Yakin deh, Tuhan pasti ngedukung kita 100% and ngejagain kita terus. For ever pokoknya!!!
      1. Tanemin spirit loe tuk berani mencoba, meskipun nggak tau ntar hasilnya kayak apa. So, don't be afraid! Okey?
      2. Bikin peta konsep ato bahasa gaulnya 'mind map' biar ntar apa yang loe sampein ke audience nggak mbulet and bikin telinganya geli. So, dengan loe bikin mind map, apa yang loe sampein bakal terarah kok! Suer lho?
      3. Sebelum loe jadi pembicara, loe kudu jadi pendengar yang baik dulu. Biar ntar loe bisa belajar dari gaya bicaranya tokoh- tokoh terkenal kita, misalnya pak SBY, Barrack Obama, de el el. Dijamin deh, untuk menjadi pembicara yang baek, loe bisa ngembangin sendiri gaya bicara loe.
      4. Loe pingin lancar bicara didepan umum? Loe bisa latihan ngomong didepan cermin biar nggak demam panggung alias grogi. So yang kita lihat itu diri loe sendiri, masak loe malu ama diri loe sendiri? Apa kata dunia???
      5. Loe juga harus tau diri. Ngomong jangan asal ngomong. So, siapin dulu itu tema yang mau loe omongin.
      6. Waktu tampil lebih siip lagi kalo pake argumen yang jelas, lugas, tepat, dan padat.

Senin, 18 April 2011

kotbah pentingnya merayakan hari Minggu


Kotbah dan Katekese: Pentingnya Hari Minggu
Oleh: Bonaventura Mario

      Selamat siang bapak-ibu serta saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Bagaimana kabarnya hari ini? Puji Tuhan, Dia masih memberikan kita semua berkat dan rahmat kesehatan, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan merayakan iman kita.
Bapak-ibu serta saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, mulai dari kecil, keluarga saya selalu menanamkan nilai-nilai kristiani kepada anak-anaknya. Setiap hari Minggu, saya diajak untuk pergi ke gereja. Awalnya saya pergi ke gereja itu dengan berat hati, karena film-film kartun yang diputar di TV waktu itu bagus-bagus, ada Doraemon, Upin-Ipin sayang sekali kalau melewatkannya. Pernah saya mogok pergi ke gereja karena saking kepinginnya menonton TV. Maklum, waktu itu saya masih anak-anak. Beda sekali dengan anak-anak di stasi Ngeni ini ya, semuanya rajin-rajin. Rajin ikut sekolah minggu, dan rajin ke gereja.
            Bapak-ibu dan saudara yang terkasih dalam Kristus, terkadang  ada saja yang menghambat kita untuk mau pergi ke gereja. Entah itu rasa malas, atau lebih mementingkan pekerjaannya, misalnya mencari rumput, merawat ladangnya, dll. Memang itu penting, kalau tidak bekerja, mau makan apa ternaknya? Mau makan apa anak istri? tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu makanan rohani. Manusia itu hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
Bapak-ibu dan saudara yang terkasih dalam Kristus, ada falsafah Jawa yang mengatakan “Urip iku mung mampir ngombe”. hidup kita di dunia ini  hanya untuk mampir minum. Kalau hidup itu hanya mampir, lalu kemana tujuan utama kita? Tujuan utama kita adalah rumah Bapa di surga. Bagaimana caranya untuk dapat sampai ke surga? Caranya adalah melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam perintah Allah yang ketiga, Allah memerintahkan kita untuk menguduskan hari sabat, atau hari Minggu.
Hari sabat atau hari Minggu itu adalah hari dimana kita bisa beristirahat. Selain itu, hari sabat itu dikhususkan untuk Allah, yang telah menciptakan kita. Kita butuh istirahat untuk melepaskan setumpuk beban kita. Bahkan Tuhan pun juga membutuhkan istirahat. Setelah menciptakan bumi dan seisinya, Dia beristirahat dan memberkati semua ciptaan-Nya. Pada zaman perjanjian lama dan perjanjian baru, disaat hari sabat, tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apapun. Namun Tuhan Yesus telah memperbaharui penghayatan hari sabat. Yesus menegaskan bahwa, segala tindakan yang bertujuan untuk memuliakan Allah itu tidak mungkin melanggar hari sabat. Tujuan dari hari sabat ini adalah untuk memfokuskan diri untuk berrelasi dengan Allah. Menguduskan hari sabat itu adalah salah satu wujud iman kita. Kita menguduskan hari Tuhan dengan mengikuti acara-acara rohani, misalnya mengikuti misa, ibadat sabda, dan mengikuti acara-acara stasi. Untuk teman-teman mudika mari ikut kumpul mudika. Untuk yang masih anak-anak, mari ikut sekolah minggu. Untuk keluarga, mari ikut doa kelompok di kelompoknya masing-masing. Ada juga KTM, dll. Pokoknya kita isi hari sabat ini untuk acara-acara rohani.
Selama hari Senin-Sabtu pasti banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Kita mohon rahmat pengampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat selama satu minggu yang lalu, kemudian mohon kekuatan dan berkat untuk menjalani hidup kita satu minggu ke depan.
Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan bila kita menghadiri perayaan ekaristi. Kita bisa mendermakan sebagian uang kita lewat kolekte untuk Gereja. Kita diakui menjadi jemaat secara penuh apabila kita mengikuti misa. Kita juga bisa berjumpa, berelasi dengan saudara seiman dalam Tuhan. Bahkan bisa dapat jodoh bila Tuhan menghendaki.
Tuhan telah memberikan kita waktu 24 jam sehari, dalam satu minggu ada 7 hari. Tuhan bisa saja meminta semua hari yang ada untuk diri-Nya, karena Tuhan itu adalah Tuhan yang Maha Kuasa.  Namun Tuhan meminta 1 hari saja, hari Minggu untuk beribadah kepada Tuhan. Masa kita masih menggunakan hari minggu ini untuk kepentingan diri kita sendiri? Peribahasa jawanya seperti ini, “wis diwenehi ati isih ngrogoh rempelo.” Sudah diberi dipensasi, malah minta yang lebih..
Maka dari itulah mari kita menguduskan hari sabat, hari Tuhan kita sebagai salah satu wujud iman kita. Berkah dalem.

Selasa, 22 Maret 2011

Youth People on the Ngeni Station

Created By: Bonaventura Mario
          Ngeni station is one of the stations on A region on St. Yusuf Parish. Ngeni station is the most thriving station on A region, because the people so many, the facility so complete, the management of station is good.
But on the backside of the progress of the station, there are many problems. One of the problems is not being active of the catholic youth. Although the total of catholic youth so many, but the spirit to active in the church activity so little. This problem caused of some reason, they are:
          First, the difference in ages that creates a gap between the older generation and the youth one, so they felt ‘sungkan’ to communicate with the others. Second, the people of Ngeni station considered to the leader of Ngeni station, Mr. Marlin as a conservative leader. Possibility, this problem caused of his age was so old and he was leading the Ngeni station so long. On the station, often happened argument contradiction between the catholic youth and Mr. Marlin. The catholic youth wanted to hold some creative and explorative activities. But they are not received a positive support from the leader of station. So, the catholic youth often give in to the leader of station. Third, they are crisis of the pioneer to hold a spiritual activity or the other activities which can collect all of catholic youth.
         Beginning from the concern about not active of catholic youth, I as the pastoral official on there, I visited the house of catholic youth by turns. I listened their problems; I support their spirit to motivate them to active again. I have a plan to hold some activities such as ”cangkrukan”, spiritual camp, “rekoleksi” and the other activities which can collect all of catholic youth. I hope these activities can awaken the spirit of catholic youth to active on the organization.
          These initiative will I do just for the progress of catholic youth. I hope they can be a buffer and continue the next generation of Ngeni station. Actually, I never attended the activities of catholic youth on my parish. I just active on the misdinar activities. Caused that, I will search much information about the catholic youth’s activities for the sake of my catholic youth. I bought a book, the title was”Formasi Dasar Orang Muda untuk Remaja setingkat SMP” and I borrow Clinton’s book. The title was”Formasi Dasar Orang Muda untuk Remaja setingkat SMA” to prepare my plans. I hope these books can I put into practice.
          Actually, my catholic youth have a young spirit, high creativity, and high exploration. I just process it to have a deepen faith and aimed them to be a good catholic youth. Puberty is the time to seek their identity. I hope I can give the right way to help them to seek their identity. I will give my total spirit to serve the catholic youth. I am not want my Church was lost the next generation, because I want to be a good priest, which care to Catholics and especially catholic youth.